• Hai, Welcome ! Like us on:

Budaya Membaca

17.33
Budaya membaca dapat kita artikan dengan mengembalikannya kepada akar kata tersebut. Budaya membaca terdiri dari dua suku kata. Budaya dan membaca. Budaya artinya sebuah kebiasaan di suatu tempat atau daerah yang dilakukan bersama orang-orang yang tinggal di tempat tersebut, serta terus diturunkan ke generasi berikutnya. Sedangkan membaca adalah membunyikan atau menyimpulkan sesuatu dari kumpulan informasi yang masih abstrak dan tidak dapat dimengerti menjadi sesuatu yang memiliki arti. Dengan begitu maka budaya membaca adalah kebiasaan manusia dalam membunyikan atau menyimpulkan informasi yang masih abstrak menjadi sesuatu yang memiliki arti.

Budaya membaca merupakan salah satu budaya tertua yang pernah ada di muka bumi ini. Sebuah sumber mengatakan bahwa manusia sudah mulai membaca sejak tahun 2500 sebelum masehi. Yaitu ketika bangsa Mesir kuno berhasil menemukan bahan untuk membuat paphirus. Sebuah kertas di zaman perabadan kuno. Kemudian dikatakan juga kebiasaan membaca menyebar ke Cina dan India kuno.

Namun saya melihat sejatinya budaya membaca jauh lebih tua dari yang sudah diungkapan di atas. Budaya membaca sudah ada sejak zaman para nabi. Karena bukankah setiap nabi-nabi diberikan kitab atau shuhuf oleh Alloh. Maka kitab dan shuhuf itu harus disampaikan kepada umat-umatnya. Maka sudah tentu membaca akan dilakukan. Karena itulah bisa disimpulkan budaya membaca merupakan salah satu budaya tertua.

Budaya membaca juga pasti akan ada di setiap tempat dan keyakinan. Terutama agama-agama samawi. Agama-agama yang memiliki kitab suci akan mempunyai sejarah panjang tentang budaya membaca. Apalagi dalam keyakinan agama Islam. Budaya membaca sangat diperintahkan oleh Alloh Swt. Bahkan perintah untuk membaca merupakan wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Saw (Surat Al-‘Alaq ayat 1-5).

“Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu.....” (Al-‘Alaq ayat 1).



0 komentar:

Posting Komentar

Readers may send comments on this post. The contents of comments not represent the views, opinions or policies Ruang Baca Bersama and entirely the responsibility of the sender.

Readers can report a comment if it is considered unethical, abusive, defamatory, or redistributed. Ruang Baca Bersama will consider each complaint and may decide to keep or delete the comment display.